-
YOGYAKARTA | metrofakta.id — Kerja keras, kedisiplinan, dan kecintaan terhadap olahraga bela diri mengantarkan Hasan Sulaiman Al Ghazali, siswa kelas V SDIT Al Khairaat Kota Yogyakarta, menorehkan prestasi gemilang. Hasan berhasil meraih juara pertama dalam Kejuaraan Daerah (Kejurda) Wushu tingkat Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang berlangsung di GOR Sasana Wushu Sinduadi, Sleman, pada 10–11 Oktober 2026.
Pencapaian tersebut menjadi bukti bahwa kesungguhan dalam mengembangkan minat dan bakat dapat membuahkan hasil membanggakan sejak usia dini. Di tengah kesibukannya sebagai pelajar, Hasan mampu membagi waktu antara kewajiban belajar dan rutinitas latihan bela diri yang telah digelutinya selama beberapa tahun terakhir. -
Bagi Hasan, wushu bukan sekadar olahraga untuk mengejar kemenangan. Ketertarikannya terhadap seni bela diri asal Tiongkok itu tumbuh dari keunikan gerakan serta tantangan yang harus dikuasai dalam setiap latihan.
Sepulang sekolah, Hasan tetap bersemangat menuju Sasana Elang Perkasa Kotagede, Yogyakarta, tempat ia berlatih sebagai atlet wushu sanda. Latihan rutin dilaksanakan tiga kali dalam sepekan, biasanya mulai selepas Asar hingga menjelang Magrib.
Menariknya, Hasan mengaku tidak menjalani persiapan khusus menjelang kejuaraan kali ini. Ia tetap mengandalkan latihan rutin yang selama ini menjadi bagian dari kesehariannya.
”Saya menyukai Wushu karena olahraganya unik,” ungkap Hasan.
Konsistensi tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan Hasan membangun kemampuan dan kepercayaan dirinya. Prestasi yang diraihnya kali ini sekaligus menambah catatan positif dalam perjalanan atlet muda tersebut di dunia olahraga bela diri.
Bukan Prestasi Pertama
Gelar juara pertama di Kejurda Wushu DIY 2026 bukanlah pencapaian yang datang tanpa proses. Sebelumnya, Hasan telah beberapa kali menunjukkan kemampuannya dalam kompetisi bela diri tingkat regional 
-
Pada Juli 2026, Hasan berhasil membawa pulang medali perak dalam ajang Kejurda Wushu Jet Kun Do Shaolin Kungfu Indonesia tingkat DIY–Jawa Tengah. Prestasi serupa juga diraihnya pada 2025 dalam kejuaraan yang sama.
Rangkaian pencapaian itu memperlihatkan perkembangan Hasan dari satu kompetisi ke kompetisi berikutnya. Kali ini, kerja kerasnya berbuah hasil lebih tinggi dengan raihan medali emas dan posisi teratas di kejuaraan tingkat provinsi tersebut.
Hasan diketahui mulai menekuni olahraga bela diri wushu sanda sejak berusia sembilan tahun. Dukungan keluarga, terutama sang ibu, turut menjadi bagian penting dalam proses pembinaannya.
Sang ibu secara konsisten mendampingi Hasan dengan mengantar dan menjemputnya ke tempat latihan di Sasana Elang Perkasa Kotagede. Dukungan tersebut menjadi wujud nyata keterlibatan keluarga dalam membantu anak mengembangkan potensi yang dimilikinya.
Sekolah Dukung Pengembangan Bakat Siswa
Prestasi Hasan juga mendapat dukungan dari lingkungan sekolah. Kepala SDIT Al Khairaat Yogyakarta, Kus Henny Setiawati, menyampaikan bahwa sekolah memberikan perhatian terhadap pengembangan kemampuan peserta didik, baik di bidang akademik maupun nonakademik.
Menurutnya, pembinaan minat dan bakat merupakan bagian penting dalam mempersiapkan anak untuk meraih prestasi serta mengembangkan potensi dirinya di masa mendatang.
”Sekolah akan selalu mendukung setiap program pembinaan minat, bakat, dan potensi anak-anak, baik dalam bidang akademik maupun nonakademik. Hal ini menjadi modal berharga bagi raihan prestasi mereka di kemudian hari, sekalipun kegiatan pembinaan tersebut dilakukan oleh orang tua bersama lembaga di luar sekolah,” jelas Kus Henny Setiawati.
Dukungan tersebut menunjukkan bahwa proses pendidikan dan pembentukan prestasi tidak hanya berlangsung di ruang kelas. Kolaborasi antara sekolah, keluarga, dan lembaga pembinaan olahraga turut membuka ruang bagi anak untuk berkembang sesuai minat dan kemampuannya.
Keberhasilan Hasan menjadi juara pertama di Kejurda Wushu DIY 2026 pun dapat menjadi motivasi bagi pelajar lainnya untuk berani menekuni bidang yang disukai, menjalani proses dengan disiplin, serta tidak mudah menyerah ketika menghadapi tantangan.
Di balik medali yang diraih, terdapat rutinitas latihan, dukungan orang tua, dan kesempatan untuk terus belajar. Bagi Hasan, kemenangan ini menjadi salah satu tonggak perjalanan yang masih panjang untuk mengembangkan kemampuannya sebagai atlet muda.
Prestasi Hasan menjadi pengingat bahwa usia bukanlah penghalang untuk berprestasi. Dengan ketekunan, pendampingan yang tepat, dan kesempatan untuk berkembang, potensi anak dapat tumbuh menjadi kebanggaan keluarga, sekolah, dan daerah.
Sabar/ radit


















